Dewasa ini pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang “sakti” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik. Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga. Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang “memakan” sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang deikembang biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut “Takakura Home Method” yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura. Selain Sistim Takakura Home Method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain ada yang berbentuk “Takakura Susun Method”, atau modifikasi yang berbentuk tas atau kontainer. Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistim pengomposan yang paling dikenal dan disukai masyarakat karena kepraktisannya. Mr. Takakura, melakukan penelitian di Surabaya sebagai bagian dari kerjasama antara Kota Surabaya dan Kota Kitakyushu di Jepang. Kerjasama antar kedua kota difokuskan pada pengelolaan lingkungan hidup. Kota Kitakyushu terkenal sebagai kota yang sangat berhasil dalam pengelolaan lingkungan hidup. Keberhasilan kota Kitakyushu sudah diakui secara internasional. Karena keberhasilan kota Kitakyushu itulah kota Surabaya melakukan kerjasama pengelolaan lingkungan hidup. Bentuk kerjasama berupa pemberian bantuan teknis kepada kota Surabaya. Bantuan teknis yang diberikan Pemerintah Jepang adalah dengan menugaskan sejumlah tenaga ahli untuk melakukan penelitian tentang pengolahan sampah yang paling sesuai dengan kondisi Surabaya. Mr. Takakura adalah salah satu ahli yang ditugaskan itu. Sehari-harinya Mr. Takakura bekerja di perusahaan JPec, anak perusahaan dari J-Power Group. Suatu perusahaan yang sesungguhnya bergerak di bidang pengelolaan energi. Mr. Takakura adalah expert yang mengkhususkan diri dalam riset mencari energi alternatif. Kerjasama Kitakyushu-Surabaya untuk mengelola sampah dimulai dari tahun 2001 sampai 2006. Takakura menjadi peneliti kompos selama kerjasama tersebut sekaligus sebagai ahli pemberdayaan masyarakat. Selama itu Takakura dan timnya secara berkala datang ke Surabaya untuk melakukan penelitian dan melaksanakan hasil penelitian itu. Kadang-kadang Takakura datang ke Surabaya sampai enam kali dalam setahun. Selama penelitian kompos biasanya bisa mencapai 3 minggu ia harus mengamati perkembangan bakteri kompos. Yang unik dari Mr. Takakura adalah bahwa selama ia berada di Surabaya ia senantiasa memakai baju batik. Padahal dalam keadaan sehari-harinya di Jepang, biasanya Mr. Takakura memakai setelan jas lengkap ke kantor sebagaimana orang Jepang lainnya. Sumbangsih Mr. Takakura terhadap upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya sangatlah besar. Keberhasilan itu malah diapresiasi oleh lembaga internasional IGES (Institut for Global Environment and Strategy). Pada bulan Februari 2007, IGES mensponsori studi banding 10 kota dari 10 negara untuk melihat pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya. Kota-kota itu ingin mencontoh sistem pengomposan yang dikembangkan oleh Surabaya dengan bantuan Takakura Composting System. Keberhasilan Mr. Takakura menemukan sistim kompos yang praktis tidak saja memberikan sumbangsih bagi teknologi penguraian sampah organik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mr. Takakura jauh-jauh datang dari Jepang meneliti dan melakukan pengomposan di Surabaya. Kalau seseorang yang datang dari jauh, yang tadinya “saudara bukan, teman juga tidak” begitu peduli mengurangi sampah Surabaya. Apakah warga Surabaya sendiri tidak lebih peduli dengan sampahnya. Prinsip inilah yang terus dikembangkan di Surabaya. Dengan didukung oleh sejumlah tenaga sukarela (volunteer) termasuk MTV Surabaya, maka pengurangan sampah organik di sumbernya, kini sangat membanggakan Surabaya. http://www.togarsilaban.com/2007/05/09/takakura/ Untuk info dan bantuan lebih lanjut bisa kontak di alamat berikut ini: Pusdakota Ubaya, Jl Rungkut Lor III/87 Surabaya. Telp: 031 8474325 atau email: office@pusdakota. org. Alpha Savitri - Public Affairs Bapak dan Ibu Djamaludin, Mantan Mentri Kehutanan Taman Karinda, Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung, Kebun Karinda, Bumi Karang Indah Blok C2 No. 28, Lebak Bulus, Jakarta Pelatihan daur ulang 2 x seminggu Selasa pk. 9.00-11.00 dan Sabtu pk. 08.100. Kelas terbuka, muat untuk 40 orang. Peserta harus daftar dulu, perorangan atau kelompok. Melalui telp. 021-75909167. Dapat diperoleh Keranjang Takakura dan VCD Cara Pengolahan Sampah Organik.
Yayasan BINTARI di (024) 70 777 220 - Semarang
 | Friday, July 20, 2007 KOMPOSTER KERANJANG TAKAKURA - BANDUNG Dikembangkan oleh Bapak dan Ibu Djamaludin, Taman Karinda Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung, 20 Juli 2007 Foto: Sobirin, 2007, Keranjang Takakura Oleh: Sobirin   Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa. Dalam kunjungan saya ke rumah Bapak dan Ibu Djamaludin, pemilik taman kompos Karinda, di Lebak Bulus, Jakarta, saya mendapat ilmu baru, yaitu membuat kompos murah dengan wadah keranjang plastik. Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa. Menurut Ibu Djamaludin, konsep membuat kompos dengan keranjang ini diperkenalkan oleh Mr. Takakura pada saat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga di Pusdakota Surabaya. Rupanya ini pengalaman praktek Mr. Takakura sendiri di Jepang. Jadi keranjang ini dikenal sebagai Keranjang Takakura. Keranjang plastik semacam di gambar foto, mudah didapat di toko atau pasar yang menjual barang-barang kelontong rumah tangga. Ukurannya hanya sekitar 50 liter, biasanya digunakan untuk keranjang wadah pakaian kotor sebelum dicuci. Caranya begini: Pertama, cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya bangsanya tikus tidak bisa masuk). Jangan lupa kalau membeli keranjang plastik ini berikut tutupnya. Kedua, cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-bahan yang akan dikomposkan. Ketiga, isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Kalau sebelumnya anda tidak membuat kompos sendiri, anda minta saja ke teman anda yang punya persediaan kompos yang siap pakai. Tebarkan kompos ke dalam doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik. Keempat, bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam keranjang. Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain: Sisa makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan. Sisa sayuran mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai ukuran 2 cm x 2 cm. Kelima, setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi. Anehnya, doos dalam keranjang ini lama tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah dapat dimanfaatkan. Catatan: khusus untuk komposter Keranjang Takakura ini, upayakan agar bekas sayuran bersantan, daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos. Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL (mikroba loka) tidak digunakan. http://clearwaste.blogspot.com/2007/07/komposter-keranjang-takakura.html |
 | Kotak sakti Takakura? Apaan tuh!! -- SEMARANG Kotak sakti Takakura adalah sebuah kotak berukuran 40 cm x 25 cm x 70 cm yang ditemukan oleh Pak Takakura seorang peneliti dari Jepang yang melakukan penelitiannya di Surabaya bersama PUSDAKOTA, Universitas Surabaya dan Kitakyushu Techno-cooperation Association, Jepang. Kenapa sakti? Kotak ini begitu sakti karena dapat menyerap sampah organik suatu keluarga (4-6 anggota keluarga) sampai dengan 1 bulan untuk menjadi penuh dan merubahnya menjadi pupuk kompos dan selain itu kotak ini dapat dipakai berulang-ulang sampai hitungan tahunan untuk menyerap sampah organik rumah kita. Secara estetika kotak ini tidak beda dengan kotak penyimpan lainnya kalau diletakkan didalam rumah karena sampah yang dimasukkan tidak berbau dan memang kotak yang digunakan kotak yang biasa didapatkan masyarakat sebagai penyimpan barang di rumah. Bedanya kotak ini dengan kotak yang lain karena didalamnya dimasukkan seonggok kompos bakteri padat yang siap untuk memakan semua sampah yang masuk ke kotak Takakura. Kenapa sih kok kita harus susah-susah mengelola sampah kita sendiri? Sampah sudah menjadi masalah di kota-kota besar di Indonesia, bisa dilihat sendiri apa yang terjadi dengan Kota Bandung dan Kota Jakarta yang masih mencari tempat pembuangan sampahnya. Jaman sekarang kelihatannya masyarakat sudah tidak mau disekeliling tempat tinggalnya dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena masalah kesehatan, kebersihan atau yang lainnya. Rata-rata sampah organik menguasai 60%-70% buangan sampah di Indonesia. Sampah plastik saja yang berkisar 8,6%-14,7% menyumbangkan 40.000 ton sampah ke TPA di Indonesia (sumber: litbang DPU) , jadi bisa dibayangkan kalau 60% nya itu berapa. TPA di kota Semarang sebenarnya sudah habis masa pakainya tetapi masih bisa diperpanjang usianya dengan pengelolaan yang baik, tetapi mau sampai kapan bisa diperpanjang? Dan lokasi mana yang masyarakatnya mau disekitar tempat tinggalnya dibangun TPA yang baru. Daripada menunggu sampah kita teronggok disekitar lingkungan tempat tinggal kita mungkin kotak Takakura bisa menjadi salah satu solusi yang bisa kita praktekan sendiri dari rumah kita sendiri. Setidaknya bisa membantu memperingan kerja bapak-bapak yang mengangkut sampah rumah kita, menghasilkan kompos yang dapat kita pakai sendiri untuk tanaman rumah kita dan dalam skala lebih besar dapat memperingan kerja TPA. Di Surabaya kotak ini sudah disebarkan ke ribuan rumah sedangkan untuk Semarang baru dikembangkan untuk model area yang dimulai dari Kelurahan Jomblang, Tandang . Kalau ada yang berminat untuk mendapatkan kotak Takakura bisa menghubungi Yayasan BINTARI di (024) 70 777 220. Salam Lestari!! http://loenpia.net/blog/2006/11/13/kotak-sakti-takakura/ |
 | Pengertian Keranjang Takakura Keranjang Takakura merupakan alat pengomposan skala rumah tangga yang ditemukan Pusdakota bersama Pemerintah Kota Surabaya, Kitakyusu International Techno-cooperative Association, dan Pemerintahan Kitakyusu Jepang pada tahun 2005. Keranjang ini dirakit dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita yang mampu mempercepat proses pembuatan kompos. Satu keranjang standar dengan starter 8 kg dipakai oleh keluarga dengan jumlah total anggota keluarga sebanyak 7 orang. Sampah rumah tangga yang diolah di keranjang ini maksimal 1,5 kg per hari. Berikut ini petunjuk pemakaiannya: Jenis-jenis sampah yang diolah: - Sisa sayuran. Idealnya sisa sayuran tersebut belum basi. Namun bila telah basi, cuci sayuran tersebut terlebih dahulu, peras, lantas buang airnya. - Sisa nasi. - Sisa ikan, ayam, kulit telur dll. - Sampah buah yang lunak (anggur, kulit jeruk, apel, dan lain-lain). Hindari memasukkan kulit buah yang keras seperti kulit salak. Cara kerja: Sampah dapur yang dimasukkan di Keranjang Takakura sebaiknya dalam materi yang kecil. Semakin kecil materi, semakin mudah diuraikan. Untuk sisa sayur dan buah, potonglah kecil-kecil. Gali starter kompos di dalam keranjang tersebut dengan cetok. Luasan dan kedalaman galian, sesuaikan dengan banyaknya sampah yang hendak dimasukkan. Masukkan sampah pada lubang yang digali. Tusuk-tusuk sampah tersebut dengan cetok. Timbun sampah tadi dengan kompos di tepian lubang. Tutup kompos tersebut dengan bantalan sekam. Tutup permukaan keranjang dengan kain. Yang terakhir, tutuplah dengan tutup keranjang. Catatan: Letakkan Keranjang Takakura di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung. Bila kompos kering, perciki air bersih sambil diaduk merata. Suhu ideal adalah 60 derajat celsius. Cara Pemanenan Bila kompos di dalam Keranjang Takakura telah penuh, ambil 1/3-nya dan kita matangkan selama seminggu di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sisanya yang 2/3 bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya. http://keranjangtakakura.blogspot.com/ |
 | Pertanyaan-pertanyaan Umum Seputar Keranjang Takakura Sejak diluncurkan tahun lalu, Keranjang Takakura telah dipakai puluhan ribu keluarga. Apa saja pertanyaan-pertanyaan pemakainya? ---------------------------------------------------------------------- - Di mana tempat yang tepat untuk menempatkan Keranjang Takakura? Salah satu kelebihan Keranjang Takakura adalah praktis, mudah dipindah-pindah dan bisa ditempatkan di mana saja. Bahkan di dapur pun bisa. Prinsipnya, tempat tersebut tidak terkena sinar matahari langsung dan memiliki sirkulasi udara yang bagus. - Apakah sampah yang dimasukkan dalam Komposter Takakura akan menimbulkan belatung? Tidak ada belatung pada Keranjang Takakura kendati setiap hari, para pemakai memasukkan sampah. Asal belatung adalah dari telur lalat. Kendatipun lalat telah bertelur pada makanan dan makanan tersebut dimasukkan ke Keranjang Takakura, telur lalat tersebut tidak akan menjadi belatung karena bahan-bahan yang ada di dalam keranjang takakura, misalnya, sekam, tidak memungkinkan perkembangbiakan belatung. - Apakah timbul bau busuk dalam pemakaian? Tidak. Namun untuk sayuran basi sebaiknya dicuci dulu dan ditiriskan, baru dimasukkan ke Keranjang Takakura. - Apakah Keranjang Takakura bisa dipakai untuk keluarga besar? Keranjang Takakura dedesain untuk ukuran sampah rumah tangga sehari-hari dengan maksimum penghuni 7 orang. Bila jumlah anggota keluarga lebih dari itu, sebaiknya memakai Keranjang Takakura lebih dari satu buah. - Bagaimana kita tahu, Keranjang Takakura berfungsi dengan baik atau tidak? Cara paling gampang adalah dengan meletakkan telapak tangan kita kurang lebih 2 cm di atas kompos. Bila terasa hangat, bisa dipastikan proses pengomposan berjalan dengan baik. Bakteri yang mendukung proses pengomposan sedang bekerja. Bila telapak tangan tidak terasa hangat, bakteri tidak bekerja maksimal. Bisa jadi kompos starter tersebut terlalu kering hingga memerlukan air. Percikkan air pada kompos tersebut. Pelan-pelan, suhu dari starter tersebut akan meningkat dengan bekerjanya mikroorganisme yang mengubah sampah menjadi kompos. - Apakah sampah yang dimasukkan harus dicacah lebih dulu? Ya, proses perubahan sampah organik menjadi kompos akan lebih cepat terjadi bila sampah yang berasal dari sayur ataupun buah-buahan dicacah terlebih dahulu. - Bahan-bahan apa saja yang bisa dimasukkan dalam Keranjang Takakura? Sisa sayur dan sisa-sisa masakan ataupun buah-buahan. Caranya dengan memotong kecil-kecil (mencacah) buah ataupun sayuran. Upayakan memasukkan sayuran yang belum basi. Bila sayuran telah basi, cuci dulu sayuran tersebut, tiriskan, dan bisa dimasukkan ke komposter Takakura. - Berapa bulan Keranjang Takakura penuh dan bagaimana penanganannya bila sudah penuh? Umumnya, keranjang Takukura penuh antara 2-4 bulan, tergantung jumlah sampah yang dimasukkan. Bila sudah penuh, ambil sepertiga bagian paling atas. Kompos yang diambil tadi didiamkan 14 hari, barulah bisa dipakai. Sedangkan yang tetap tinggal di keranjang, bisa dipakai sebagai starter untuk pengomposan kembali. - Apa fungsi-fungsi kardus dan bantal sekam pada unit komposter Takakura? Kenapa dipilih kardus, karena kardus tidak kedap udara. Bisa saja diganti denga media lain, misalnya karpet. Sistem pengomposan Takakura tergolong aerob di mana bakteri tergantung pada pasokan udara. Kardus juga berfungsi sebagai perangkap starter kompos agar tidak tumpah, karena keranjang yang dipakai memiliki lubang yang relatif besar. Sedangkan bantal sekam di bagian bawah keranjang berfungsi sebagai penampung air lindi dari sampah bila ada, sehingga bisa menyerap bau. Bantal sekam juga berfungsi sebagai alat kontrol udara di tempat pengomposan agar bakteri berkembang dengan baik. http://keranjangtakakura.blogspot.com/ |
 | TANYA JAWAB - TAKAKURA Karena baru pertama banget bikin kompos, saya punya banyak pertanyaan dan mengalami berbagai kepanikan, khususnya di hari pertama dan hari kedua. Untungnya, hari ini aku ketemu dengan beberapa teman yang bisa sedikit menenangkan hati. Fyuh. Jadi, apa yang mereka katakan, saya rangkum di sini. Kalau ada kesalahan informasi di sini, berarti salah saya, bukan salah mereka. Hehehe. Jadi monggo dibantu dibenarkan ya. T: ITU BANTAL SEKAM TARONYA DIMANA? DI LUAR KARDUS ATAU DIDALAM KARDUS J: Kalau menurut di sini dan di sini, bantal sekamnya ditaroh di dasar keranjang, sebelum kardus dimasukkan. Lebih jelasnya begini:  Tapi, kalau mau irit bisa pake kardus belas, maka jadinya begini:  Katanya, ini juga bener. Tapi, sebaiknya kardus ini dilapisi kardus lagi (biar dobel kuatnya), karena kan bakterinya rajin mencerna nggak cuma sampah tapi juga sisi kardus. Bantal sekam tetap di dalam gitu. Jadi dua-duanya bener… Syukurlah. Oh iya, itu selotip, boleh dipasang nanti kalau sudah mulai penuh saja, atau mau dipasang dari awal juga nggak apa-apa. Aku masih belum pasang selotip, supaya kardusnya bisa nutup dengan mudah (dan belum penuh). Hehehe. Mungkin di hari keempat atau kelima sudah harus pasang selotip. T: TACCHAN, SI KERANJANG TAKAKURA, MENGELUARKAN PANAS YA? Apakah Tacchan sakit? Panas itu apa sih sebenernya? Lalu apakah mengeluarkan gas berbahaya?  J: Katanya, panas yang dikeluarkan itu wajar-wajar saja. Coba kita tumpangkan tangan ke tangan yang sebelah satu lagi (jangan sampe menyentuh), pasti ada rasa hangat-hangat yang mengalir ruang antara dua tangan itu kan? Itu adalah panas alami tubuh yang dikeluarkan oleh makhluk hidup. Begitu juga dengan bakteri, punya panas sendiri. Tapi karena bakteri itu kecil-kecil jadi kadang-kadang kalo dia lagi bengong ngga melakukan apa-apa, ya nggak terasa panasnya. Di dalam Tacchan, ada banyak bakteri dan mikroba lainnya yang giat bekerja. Dan kalau sedang giat bekerja, pasti mengeluarkan panas yang lebih banyak. Contohnya, kalau kita berolah raga atau habis bekerja berat, suhu tubuh pasti meningkat lalu merasa gerah. Nah, bakteri juga begitu, mengeluarkan panas (kalor) gitu, dan akhirnya Tacchan juga terasa hangat. Kira-kira begitu teorinya. Semoga aku nggak salah ngerti. Hihihi.  Lalu, apakah bakteri di dalam Tacchan itu mengeluarkan gas? Apakah gasnya berbahaya bagi lingkungan? Nah, yang ini… aku belum jelas betul tanyanya. Tapi secara garis besar sih… seperti makhluk lainnya, Bapak dan Ibu Bakteri yang mencerna pasti mengeluarkan gas. Akan tetapi, berbeda dengan gas buangan bakteri yang "liar" yang di TPA itu, bakteri yang terdapat di dalam kompos atau di dalam bio aktivator itu adalah bakteri yang "baik" dan "bersahabat". Contoh bakteri yang digunakan untuk kompos adalah Lactobacillus. Nah, sering denger kan nama bakteri yang satu ini? Kayak bakteri yang dipake dalam minuman kesehatan atau susu. Selain itu ada juga Aktinomyces, Saccharomyces, mikroba, bakteri, jamur dan ragi lainnya Dan, tentu saja jangan lupa kalau bikin kompos lebih pada proses fermentasi, dan bukan proses pembusukan. T: SEBERAPA BANYAK SAMPAH YG BOLEH DIMASUKAN KE DALAM TACCHAN. Kapan harus bilang "stop"? J: Semakin sedikit sampah yang dimasukkan ke dalam kotak ini, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos, karena perbandingan antara bakteri dan sampah tinggi. Analoginya gimana ya? Mungkin seperti kalau kita punya sepotong roti, dimakan berempat ya lebih cepat habis dibandingkan kalau empat orang itu masing-masing makan satu roti. Jadi semakin banyak bakteri yang bekerja pada satu potong sampah, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos. Makanya kan sering pake bio-aktivator juga, supaya populasi bakteri di dalam starter kompos jadi banyak.  Gimana perbandingannya? Mungkin paling maksimal adalah 2:1 (dua bagian kompos/bakteri, dan satu bagian sampah). Kalau begini, mungkin prosesnya memakan satu dua bulanan. Kalau perbandingannya 4:1 atau 5:1, mungkin seminggu dua minggu (atau tiga minggu?) paling sudah jadi. Ukuran ngaruh nggak? Ngaruh juga sih ya. Semakin halus ukurannya, semakin cepat si bakteri bekerja. Ya bayangin aja kita makan steak daging sapi, antara yang sudah dipotong, sama yang masih berbentuk sapi utuh. Hehehe.  Jadi, kira-kira begitu deh, jawaban yang aku terima dan dirangkum seperti itulah. Mungkin semakin lama aku ngemong si Tacchan, semakin banyak pertanyaan juga ya? Hehehe, jangan kapok-kapok sama sayah yahhh… Dan seperti selalu, kalau ada misalnya salah informasi, ada kurang apa, tolong dibenerin ya. Soalnya aku buta banget soal biologi. Walau dulu seneng banget sama pelajaran biologi, tapi entah kenapa nilai biologiku (dan nilai-nilai IPA lainnya rada jebol). Aku yakin, temen-temen yang aku tanyain nggak menjerumuskan. Tapi kadang-kadang sayah, dalam kegiatan rangkum merangkum, suka seenak jidat sendiri. Hehehe.. *ngumpet* Oh iya, gambar bakteri itu nggak mewakili gambar bakteri yang aseli. Semata-mata digambar begitu biar aku gampang gambarnya (habis males sih). http://blogsampah.blogsome.com/category/faq/ |
Comment deleted at the request of the author.
 | wow!!! gambaran atuh lucu amet!!!
kog hebat tuh tempat sampah!!! |
 | Post ini saya copy sedikit di blog The Cure For Tomorrow dan langsung link ke sini ya, supaya bisa ada lebih banyak orang yg membacanya. Thanks. |
 | silahkan saja... sebarkan beritanya ke penjuru kota dan desa... saya juga dapet nyomot sana sini.. ;) |
 | senang sekali bisa nyasar kesini.
|
 | Ada pesan dari Ibu Sri Djamaludin,
Bang Tigor, Saya Ibu Sri M. Djamaludin Suryohadikusumo, pengelola Kebun Karinda. Pelatihan daur ulang sampah organik menjadi kompos diladakan 2 x seminggu setiap Selasa pk. 9.00-11.00 dan Sabtu pk. 08.100. Kelas terbuka, muat untuk 40 orang. Peserta harus daftar dulu, perorangan atau kelompok. Melalui telp. 021-75909167. Alamat Kebun Karinda: Bumi Karang Indah Blok C2 No. 28, Lebak Bulus, Jakarta 12440. Di Kebun Karinda juga dapat diperoleh Keranjang Takakura dan VCD Cara Pengolahan Sampah Organik.
Salam, Ibu Djamaludin |
 | Bang Tagor, Ijin isi -nya saya copy juga untuk milis Daur Ulang... |
 | Eh maap salah eja nama, Bang Tigor ya...:)) |
 | Dear all, perkenalkan saya, Ning Purnomohadi, pensiunan KLH. Udah ditrima di mailinglist ini. Terimakasih kepada semua. Komentar saya: Selamat dengan adanya tukar-informasi yang sangat berguna ini. Menurut pengalaman ternayata justru RT-RT yang 'sejahtera' sulit diajak mengelola sampahnya sendiri, tapi memang kalau yang kebetulan ga pounya halaman (ruang terbuka) yang cukup agak susah juga kalau enggak pakai sistem kompilasi se RT begitu. Ok ditunggu informasinya terus, dan sekali lagi terimakasih. |
 | Salam kenal juga.. Kalau saya lihat hampir semua lapisan masyarakat kurang peduli, mungkin karena faktor pendidikan dan kurangnya informasi. dengan adanya kemudahan teknology ini, seharusnya lampisan RT sejahtera harus lebih tergerak untuk lebih dahulu memulainya. dan saya melihat arah pergerakan kesana sudah ada. dengan adanya group sampah dan promosi dari kita, teman dikantor sudah ikutan ngintipin MP ini.. dan mereka pada tertarik untuk ikutan belajar mengolah sampah di Lebak Bulus. Jadi kalau ada tempat-tempat pelatihan yang lain bisa dipost kalendar... demikian juga dengan tulisan-tulisannya... jangan sungkan untuk merepost diblog sampah ini.. saya lihat bagus-bagus tulisannya di MP teman-teman yang lainnya.. hayu atuh kita berbagi cerita...... agar kuman kebaikannya cepat menyebar..
|
 | Terima kasih untuk artikelnya tentang tempat sampah Takakura ini, saya memang sedang mencari artikelnya. Saya mengetahui tempat sampah Takakura dari Playgroup anak saya, murid2 di sana di biasakan untuk memilah sampah dan menempatkan sampah dua tempat sampah salah satunya tempat sampah tatakura. Melihat itu saya jadi ingin melakukan juga di rumah, agar anak saya konsisten :D |
 | great,,, boleh nih diaplikasikan pada PLH berbasis kompetensi.. |
 | buat bang Tigor Bang saya ada tugas dari ibu untuk buat presentasi pengelolaan sampah khususnya sampah rumah tangga untuk diubah jadi kompos, dan saya bersyukur sekali dapat menemukan blog abang, semoga ilmu abang memberi manfaat banyak orang |
 | bang, saya minta ijin ngambil gambar2 lucunya ya...untuk bahan presentasi saya tentang pengolahan sampah.rumah tangga kepada ibu-ibu dan adik-adik siswa sekolahan, trims a lot 4 sharingnya. |
 | silahkan saja... kayanya yg punya sudah setuju.. |
 | alo-alo.. ini yg aku cari-cari, salutsz.. 1. btw, kalo sampah dari sisa makanan/sayur kan ada airnya tuh. nah airnya dibuang ato hajar aja masukin biar microbanya ga kehausan.. 2. kalo kantong plastiknya pake kantong plastik biasa (bukan plastik takakura) bisa juga kan ? trengkyu |
 | kuahnya dibuang saja... jadi jangan terlalu basah. kalau kebanyakan air si bakteri baik kelelep, sehingga tugas dia melakukan fermentasi tidak dijalankan... sampah jadi busuk dan bau... kalau sukses pasti sampahnya anget dan baunya wangi, karena ada terjadi fermentasi... Plastik lain juga bisa.. yg penting ada sedikit sirkulasi udara. Sebenarnya sama dengan konsep pengomposan lainnya.. selamat mencoba.... pupuknya lumayan oke, pada berbuah sekarang tanaman pot saya..
|
 | tyazy wrote on Jan 13, '09 Sy sgt bersyukur nemu blog Bang Tigor meski dah telat banget ya dibanding teman2. Sy nyari sdh lama lho. Sy ijin ngopi dan ngambil smua ya? Sy ingin coba praktek dan ditularkan ke ibu2 pkk, teman2 & keluarga. Skali lg makasiih banget. Cm slama ini sy msh penasaran u/ pembuangan minyak goreng bekas. Mungkin Bang Tigor atau tmn2 punya info pengolahan limbah yg satu itu. Matur nuwun ya... |
 | tyazy wrote on Jan 13, '09 Terima kasih atas infonya yg sgt bermanfaat. Mohon diijinin ngopi infonya. Rencana ingin diterapkan dan disebarluaskan ke teman dan ibu2 pkk di lingkungan saya. Sekali lagi terima kasih. |
 | hohoho...kami juga ikut mempromosikan metode pembuatan kompos takakura loh! .... thank untuk info2nya! |
 | huaaaaaa mudah banget..sampe merinding saya membayangkan kegeniusan pak Takakura...kok gak kepikiran ya...selama ini mikir apaan saja diriku....makasih buat informasinya... |
 | minyak goreng bekas bisa dijadikan bahan bakar bio-solar, hanya belum tahu caranya.. :). |
 | slm kenal mas. aku masih bingung, sbnernya smpah hewani seperti ikan, daging, dll boleh iktn dikomposn atw gak? soalx da beberapa artikel yg blg ktx gak boleh.. |
 | bisa tapi harus dicingcan (dihancurkan) dan diterbar merata.. dengan komposisi yg kecil dibandingkan sampah hijau lainnya.. |
 | mantabs, Solo juga minat nich, btw ane asli Suroboyo lo Rek :-D suwun |
| |